23.02.2010

Pakaian Adat Minang Tampil di Karneval Braunschweig

Frau Mimi Schlüter berichtete am 19. Februar 2010 in ANTARA-NEWS über den Karneval in Braunschweig, bei dem auch die Indonesier in Minang-Tracht teilnahmen. 


Pakaian adat daerah termasuk adat Minang ditampilkan di Karneval BraunschweigHelau!!! 

Alaaff!! demikian salam Karneval di Jerman. Tahun ini pawai karneval di Braunschweig diadakan pada hari Minggu tanggal 14 Februari 2010 lalu. Karneval Braunschweig adalah karneval terbesar ke 4 di Jerman setelah Koeln, Dueselldorf dan Mainz, serta merupakan karneval terbesar di daerah Jerman Utara.

Pawai karneval tahun ini adalah yang ke 111 kalinya diadakan di Braunschweig. Sedangkan karneval sendiri telah dilaksanakan di Jerman semenjak 700 tahun yang lalu. Pawai karneval pertama diadakan di Jerman di kota Koeln pada tanggal 10 Februari 1827, dimana pada tahun itu telah mendapat sambutan yang meriah dari masyarakat sehingga menjadi tradisi sampai saat ini hampir di setiap kota dan kampung.

Apa sebetulnya yang dimaksudkan dengan karneval di sini?. Karneval adalah 3 hari terakhir sebelum puasa bagi umat Nasrani. Karneval diadakan antara hari Minggu, Senin atau Selasa dan pada hari Rabunya umat Nasrani menjalankan ibadah puasanya selama 6 minggu sampai hari raya Paskah datang.

Selama 6 minggu berpuasa umat Nasrani tidak boleh menikmati makanan manis-manis, makanan mengandung darah (seperti daging, ikan), makanan dan minuman mengandung susu, makanan dan minuman mengandung minyak, makanan dan minuman mengandung alkohol, dan segalanya yang berunsur menikmati seperti pesta, sex, rokok, musik, film dan televisi sepanjang siang dan malam.

Berbeda dengan puasa Ramadan umat Islam dimana puasa dilaksanakan selama siang hari saja selama bulan Ramadan dan setelah matahari terbenam atau malam diperbolehkan menikmati segalanya kembali. Pada bulan puasa itu ummat Nasrani cuma dianjurkan untuk bekerja dan beribadah saja.

Makanya sebelum melaksanakan puasa mereka menikmati segalanya terlebih dahulu dengan pesta dan hura-hura, puncaknya yaitu „Karneval“. Karneval Braunschweig yang disebut „Schoduvel“ yang berarti „menakuti setan atau hantu yang membawa kedinginan dan es serta salju pada musim dingin.

Dengan adanya karneval yang mengenakan pakaian berwarna warni, masker serta musik yang keras, bersama berusaha mengusir hantu dingin ini dari bumi Braunschweig.

Tetapi sekarang karneval diadakan sebagai salah satu tradisi di Jerman dan tidak banyak atau hampir tidak dihubungkan lagi dengan keyakinan Nasrani. Begitu banyak masyarakat Jerman yang tidak tau makna sebenarnya dari karneval, cuma mengetahui bahwa setiap tahun di sekitar bulan Februari selalu ada pawai karneval.

Setiap tahunnya toko-toko memajang dan menjual perlengkapan karneval yang secara tidak langsung akan membuat masyarakat tidak sabar menunggu datangnya pawai dan pesta karneval. Setiap kota dan kampung demam karneval, bahkan di sekolah-sekolah diadakan pesta karneval atau Fasching.

Dalam pawai dan pesta karneval, hampir setiap orang tua, muda, besar, kecil, pejabat,pekerja dan sebagainya baik yang ikut pawai atau sebagai penonton akan memakai pakaian dan kostum karneval yang berwarna-warni serta hiasan yang beragam. Para pengikut pawai akan menebar permen (bon-bon atau kamelle), mainan, dan/atau makanan kepada penonton sambil berteriak „Helau…..!!“ atau „Alaaff!!“ sebagai tanda bersama menikmati sebelum berpuasa. „Brunschwiek helau !!....Brunschwiek helau !!....demikian teriakan karneval di Braunschweig.

Hampir 100.000 penonton memenuhi kota Braunschweig untuk menyaksikan pawai karneval di Braunschweig, mereka datang dari berbagai penjuru Jerman khususnya di belahan utara dan bahkan juga ada penonton dari luar negeri. Tahun ini penonton memang jauh berkurang dari tahun sebelumnya sekitar 250.000 orang.

Hal ini dikarenakan cuaca yang begitu dingin, sekitar minus 8°C dan bersalju untuk berdiri lama menyaksikan pawai akbar kota singa ini. Banyak penonton yang memilih menyaksikan siaran langsung didepan televisi tanpa harus menahan rasa dingin yang mencekam.

Dalam rangka memeriahkan hubungan „Sister City ke 50“ antara kota Bandung (Indonesia) dengan Braunschweig (Jerman), DIG (Deutsch Indonesische Gesellschaft/Perkumpulan Indonesia Jerman), Konsulat Jenderal RI Hamburg dan kota Braunschweig bekerja sama untuk berpartisipasi dalam pawai karneval ke 111.

Indonesia dengan menampilkan „Reog Ponorogo, beca, gamelan dan pakaian adat Indonesia khususnya dari Bandung/Jawa Barat, Padang dan Bali sebagai awal program untuk memeriahkan sister city pertama dan tertua di Asia dan Eropa yang terbentuk pada tanggal 24 Mai 1960. Prasasti kerja sama antar kedua sister city ini diterima dan ditanda tangani oleh wali kota Bandung pada tanggal 6 Juni 1960. Acara puncak peringatan ini direncanakan pada tanggal 5,6 dan 12 Juni di Braunschweig.

Keikut sertaan team Indonesia pertama kalinya dengan nomor 259 ternyata telah membuahkan hasil yang gemilang, dari sekitar 300 peserta karneval, Indonesia menjadi pusat perhatian penonton di sepanjang jalan sejauh 6,5 km dan bahkan berhasil meraih juara pertama.

Suasana karneval sangat terasa di Braunschweig, walaupun kota itu masih diselimuti es dan salju semenjak lebih dari 2 bulan. Petugas kebersihan kota terpaksa sepanjang malam sampai pagi hari sebelum jam 10.00 membersihkan jalan yang akan dilalui pawai dan trotoir tempat berdiri penonton di sepanjang jalan 6,5 km dibebas paksakan dari lapisan es dan salju.

Parade karneval dimulai pada jam 12.45 dan berakhir jam 18.00 yang disiarkan langsung oleh stasiun televisi terbesar pemerintah di Jerman Utara NDR dan beberapa stasiun televisi swasta besar di Jerman seperti Sat 1, RTL, Pro 7, NTV dan TV 38.

Team Indonesia yang menampilkan mobil dan trailer yang dihiasi bendera Indonesia, Jerman dan payung Bali disorot khusus selama beberapa menit dengan membawa motto „ 50 Jahre Staedtischepartnerschaft Braunschweig Braunschweig/ 50 tahun hubungan kota kembar Braunschweig Bandung“. Dengan musik gamelan Indonesia telah banyak membuat penonton bergoyang dijalanan dan semakin dikenal di Manca Negara. ***

15.02.2010

Auszeichnung für DIG-Gruppe im Braunschweiger Karneval

Unter dem Motto "50 Jahre Städtepartnerschaft Braunschweig-Bandung" nahmen Mitglieder der DIG-Niedersachsen e.V. mit Unterstützung des Generalkonsulats Hamburg erstmals am Braunschweiger Karneval (Schoduvel) am 14. Februar 2010 teil. Sie wurden in der Kategorie "Gruppe" als beste ausgezeichnet.




Screenshots aus der Fernsehübertragung durch NDR 3 und Fotos von Roland Schlüter

25.01.2010

Termine und Veranstaltungen 2009

An jedem 1. Donnerstag im Monat ab 20.00 Uhr:
Stammtisch für Mitglieder und Freunde der DIG
-
Gäste sind herzlich willkommen -

Veranstaltungsort: Restaurant "China Kaiser", Wendenstr. 49, Braunschweig-Innenstadt

Veranstaltungen zu "50 Jahre Städtepartnerschaft Braunschweig-Bandung"
5. / 6. Juni, 2010 (nähere Informationen folgen)


Mitgliederversammlung der DIG
17. Juni, 2010, 19 Uhr, Restaurant "Chinakaiser", Wendenstr. 49


Adventskaffee in der Dornse des Altstadtrathauses
4. Dezember 2010, 15 - 17 Uhr

21.12.2009

Adventskaffee, Altstadtrathaus, 12. Dez. 2009





24.11.2009

"Anklung in Concert" in Hamburg am 26. November 09

Das Anklung Orchester Hamburg, das auch in Braunschweig anlässlich der Veranstaltung "Indonesien ganz nah" am 9. Mai 2009 zu hören war, lädt zu einem Konzert in Hamburg ein.


"Wie Melodien allein durch das Schütteln von Bambusröhren entstehen, können Sie am 26. November 2009 um 19 Uhr im Audimax II, TUHH Hamburg erleben. Das Angklung Orchester Hamburg lädt Sie herzlich zu seinem zweiten Konzert an der TU Hamburg-Harburg ein.
Studierende der TUHH sowie Schülerinnen und Schüler spielen mit spürbarer Freude traditionelle indonesische Musik, Stücke klassischer Musik, internationale Pop Hits, Jazz und Blues. In der Pause können Sie fernöstliche Köstlichkeiten genießen.

Was ist Angklung:
Angklung ist ein traditionelles, sundanesisches Musikinstrument aus Bambus. Es besteht mindestens aus zwei, meist jedoch aus drei in einem Bambusgitter frei hängenden, in Oktaven gestimmten Bambusröhren, die beim Schütteln in unregelmäßiger Folge an der untersten Gitterstange angeschlagen werden. Durch Rütteln werden dabei die Töne erzeugt. Ein Angklung erzeugt nur einen Ton."

Nähere Hinweise zu dieser Veranstaltung siehe http://www.angklunghamburg.de oder Generalkonsulat der Republik Indonesien

Videos dieser Anklung-Gruppe sind auf Youtube zu sehen u. a. auch drei Videos vom Auftritt am 9. Mai 2009 in Braunschweig (Video 1, Video 2, Video 3).

18.11.2009

"Der Ruf des Geckos - 18 erlebnisreiche Jahre in Indonesien" Lesung von Horst H. Geerken

Am 16. Oktober 2009 las Herr Horst H. Geerken aus seinem Buch "Der Ruf des Geckos - 18 erlebnisreiche Jahre in Indonesien". Die Veranstaltung im Roten Saal des Schlosses war sehr gut besucht. Auch der neue Botschafter der Republik Indonesien Herr Eddy Pratomo und der Generalkonsul aus Hamburg, Herr Darmawan waren anwesend.

Im Rahmen der Lesung gab Frau Henny Sudradjat eine sehr anschauliche Einführung in das Land Indonesien und Frau Ashi Feuerhahn beeindruckte mit einem indonesischen Tanz.

Hier ein ausführlicher Bericht in Bahasa Indonesia von Frau Mimi Schlüter.






Video auch im Vollbildmodus möglich: Klicken Sie hierzu im Video unten rechts auf das Symbol links neben dem Wort "Vimeo"

Dubes RI Penuhi Panggilan Tokek di Braunschweig

Frau Mimi Schlüter berichtet in Tribun Jabar (Bandung, Indonesien) über unsere Veranstaltung am 16. Oktober 2009

Dubes RI Penuhi Panggilan Tokek di Braunschweig
Kaver buku Der Ruf des Geckos atau Panggilan Tokek
Jumat, 30 Oktober 2009 | 22:46 WIB

Braunschweig, Oktober 2009
Hujan yang turun terus menerus semenjak dua hari tidak mengurangi niat dan langkah masyarakat Braunschweig untuk menghadiri "Buchlesung/pembacaan buku" yang diadakan oleh DIG (Deutsch- Indonesische Gesellschaft/Perkumpulan Indonesia Jerman) di propinsi Lower Saxony, Jerman Utara.

Musim gugur di Eropa selalu diiringi dengan angin dan hujan yang membantu proses pengguguran daun-daunan yang masih bercokol di pohon atau tanaman dengan cepat. Suhu udara biasanya dibawah 10°C, tapi pada hari Jum'at kemarin suhu udaranya hanya +3°C.

"Buchlesung" yang dimulai pada jam 19.00 WET (Waktu Eropa Tengah) dibuka dengan lagu "Dari Sabang sampai Merauke" oleh publikum dengan teksnya yang dipantulkan ke layar per bimer, dibacakan oleh Horst H Geerken, si pengarang buku "Der Ruf des Geckos/Panggilan Tokek" yang baru diterbitkan untuk pertama kalinya pada akhir Agustus lalu di Jerman.

Buku yang menceritakan kehidupan Geerken selama 18 tahun di Indonesia, mulai dari era pemerintahan presiden RI pertama Sukarno sampai ke pemerintahan orde baru mendapat perhatian besar bagi masyarakat Jerman di Braunschweig. Kebanyakan diantara mereka yang menghadiri "Lesung/Pembacaan" tersebut punya hubungan dengan Indonesia, seperti pernah bekerja di Indonesia dan bahkan ada diantaranya yang telah berkali-kali melakukan wisata ke Indonesia.

Horst Geerken yang lahir di Stuttgart pada tanggal 13 Agustus 1933 datang pertama kali ke Indonesia sebagai insinyur yang dipekerjakan di perusahaan telekomunikasi Telefunken-AEG di Jakarta pada tahun 1963. Berencana hanya untuk 3 tahun bekerja di Indonesia tapi akhirnya kecintaannya kepada negara sorga tropika di equator ini semakin mendalam, rencana yang 3 tahun tersebut akhirnya menjadi 18 tahun.

Buku ini ditulisnya setelah dia kembali ke Jerman dan merupakan simbol kecintaannya kepada Indonesia, seperti selalu dibilangkannya "sekali Indonesia tetap Indonesia!". Bahkan Horst masih lancar berbahasa Indonesia setelah hampir 30 tahun meninggalkan Indonesia, dan seperti pengakuannya setiap minggu istrinya Annette selalu menyajikan menu Indonesia untuk sang suami. Istrinya Annette sangat pintar membuat gado-gado, bacem tahu, goreng tempe dan sayur lodeh. Kesukaan Horst adalah gulai daun ubi kuah santan dengan tempe goreng balado. "Kalau saya lihat ada masakan pakai santan, saya mau berenang didalamnya", demikian ungkapan kesukaannya akan masakan bersantan.

Buku "Der Ruf des Geckos" setebal 436 halaman tersebut telah digodog Horst membacanya selama 30 menit. Peluncuran pertama buku ini adalah dalam bahasa Jerman dan di bulan mendatang akan segera beredar di pasaran dalam bahasa Inggris, mudah-mudahan secepatnya juga bisa beredar dalam bahasa Indonesia, demikian Horst Geerken.

Panggilan Tokek ini juga dihadiri oleh Duta Besar dan berkuasa penuh RI untuk Jerman Eddy Pratomo dan istri beserta Konsul Jenderal RI untuk Hamburg Teuku Darmawan dan istri. Disamping menghadiri "Buchlesung", Dubes dan Konjen siangnya juga telah mengadakan pertemuan dan makan siang bersama dengan Rektor/Presiden Tekhnik Universitas (TU) Braunschweig, ketua Ikadin/IHK (Industrie und Handelskammer) Braunschweig. Disamping itu beliau juga mendapat kehormatan untuk menandatangani buku emas di Rathaus/Kantor kota Braunschweig yang di saksikan oleh wali kota ibu Harlfinger, ketua fraksi partai CDU juga sebagai presiden DIG Niedersachsen bapak Wolfgang Sehrt, Konsul Jenderal Teuku Darmawan serta beberapa orang pejabat teras kota Braunschweig. Kota Braunschweig adalah merupakan kota pertama di Jerman bahkan di Eropa yang mengadakan kerja sama dengan luar negeri yaitu dengan kota Bandung. Jalinan kerja sama atau sister city ini telah terjalin dengan resmi semenjak tanggal 24 Mai 1960. Kedatangan Dubes Eddy Pratomo semenjak bertugas di Berlin pada bulan April lalu adalah untuk pertama kalinya di Braunschweig.

Sebetulnya beliau dalam rencana dinasnya juga akan berkunjung ke FH (Fachhochschule Ostfalia ) Wolfenbuettel, kira-kira 10 km selatan kota Braunschweig untuk mendampingi bapak Musliar Kasim,rektor Unand dan bapak Uyung Dinasa dekan Fakultas Tekhnik Unand Padang dalam rangka kunjungan penjajakan rencana kerja sama antar dua Perguruan Tinggi ini. Tapi dengan adanya bencana gempa yang melanda Padang (Sumatera Barat) kampus Unand juga rusak berat, rencana kunjungan perdana Unand ini terpaksa ditunda sampai situasi Padang pulih kembali.

Setelah pembacaan buku selesai Duta Besar diminta untuk memberi kata sambutan dan perkenalannya sebagai duta besar baru RI untuk Jerman. Dalam pidato sambutan dan perkenalan beliau kepada masyarakat Braunschweig yang menghadiri "Buchlesung" tersebut, selain menjelaskan tentang kejadian gempa yang menimpa Sumatera, beliau juga menyinggung tentang hubungan Bandung dan Braunschweig yang tahun depan memasuki setengah abad lamanya. Direncanakan akan diadakan acara demi memeriahkan jubileum ke 50 ini di Braunschweig yang akan dibantu dan di sokong oleh kedutaan serta konsulat dari Hamburg dan Frankfurt. "Kita akan mengadakan seminar sehari tentang Indonesia dan juga akan mengadakan hari Indonesia serta malam budaya Indonesia di Braunschweig, tujuan kita untuk promosi dan mencari peluang investasi Jerman ke Indonesia".

Beliau telah menginstruksikan rencana ini kepada Konsul Jenderal Teuku Darmawan untuk membicarakannya langsung dengan wali kota Bandung.

"Dengan adanya acara ini, diharapkan kepariwisataan Indonesia semakin baik serta berpeluang besar bagi devisa negara", demikian Eddy Pratomo diakhir sambutannya.(Dra. Mimi A. Landri Schlueter, SPd., Im Weidenkamp 30 E38304 Wolfenbuettel-GermanTel. +49 5331 5524)