12. Mai 2009

"Indonesien ganz nah" Fotos

Fotos von der Veranstaltung "Indonesien ganz nah" am 9. Mai 2009 in den Schlossarkaden, Braunschweig



5. April 2009

"Indonesien ganz nah" Präsentation in den Schloss-Arkaden Braunschweig

Tänze, Lieder, Informationen

PC152104

9. Mai 2009, 11:00 - 16:15 Uhr
Schloss-Arkaden Braunschweig

Eine Veranstaltung der Deutsch-Indonesischen Gesellschaft Niedersachen e.V. in Zusammenarbeit mit dem Generalkonsulat der Republik Indonesien Hamburg


Programmübersicht

11:00 bis 13:30 Uhr
Wiederholung des Programms:
14:00 bis 16:15 Uhr
( Download des Programms )

11:00 Einzug aller Akteure in die Schloss-Arkaden --

11:15 Beginn mit Anklung-Orchester und Begrüßungstanz 14:00

11:25 Begrüßung, Herr Wolfgang Sehrt, Präsident der DIG, Grußworte: Herr Teuku Darmawan, Generalkonsul der Republik Indonesien (Hamburg), Stadt Braunschweig 14:10

11:30 Anklung-Musik 14:15

11:40 Vorstellung Indonesien 14:25

11:50 Gamelan-Orchester 14:35

12:00 Klono Topeng Tanz (Java) 14:45

12:10 Indonesische Lieder 14:55

12:15 Balinesischer Tanz 15:00

12:25 Indonesische Lieder 15:10

12:35 Kalesworo Tanz (Java) 15:20

12:45 Traditionelle indonesische Lieder 15:30

12:50 Merak Tanz (Java) 15:35

13:00 Kinder singen indonesische Lieder 15:45

13:05 Jaipong Tanz (Java) 15:50

13:15 Saman Tanz (Sumatra) 16:00

13:25 Fotoshooting 16:10

Die DIG dankt der ECE Centermanagement GmbH & Co. für die technische Unterstützung der Veranstaltung.

17. Dezember 2008

Adventskaffee, Altstadtrathaus, 13. Dez. 2008

Auch in diesem Jahr konnten Mitglieder und Freunde der DIG Niedersachsen e. V. im Rahmen eines städtischen Empfangs in der "guten Stube der Stadt Braunschweig", der Dornse im Altstadtrathaus, zur traditionellen Kaffeetafel zusammenkommen.

Nach Begrüßungsworten von Herrn Wolfgang Sehrt (DIG), Frau Bürgermeisterin Friederike Harlfinger und Herrn Teuku Darmawan (Generalkonsul der Republik Indonesien in Hamburg) erlebten die Teilnehmer ein beeindruckendes Rahmenprogramm mit Liedern und Tänzen aus Indonesien, das diesmal von den indonesischen Mitgliedern unter Leitung von Frau Mimi Schlüter gestaltet wurde.


Fotos: Dietrich Herrmann u. Reiner Fricke

Höhepunkt waren die Tänze der indonesischen Tanzgruppe KJRI aus Hamburg. Neben dem Jaipon-Tanz wurden Ausschnitte aus dem Ramayana-Epos dargeboten. Alle Teilnehmer waren sowohl von der Anmut und Ausdruckskraft der Bewegungen als auch der Farbenpracht der Gewänder fasziniert.

Video 1: Kurze Gesamtschau (1:30 min)

(Um die Videos in höherer Qualität zu sehen, klicken Sie auf das Wort "Youtube" im Video und dann auf der Youtube-Seite auf "In hoher Qualität ansehen")



Video 2:
Ausschnitte aus dem Ramayana-Tanz (6:20 min)

Ramayana di Braunschweig

tribun jabar logo
Kamis , 18 Desember 2008
Ramayana di Braunschweig
Admi Landri Schlueter
TEPAT pukul 16.00 Waktu Eropa Tengah, Herr Sehrt, presiden DIG (Deutsch Indonesische Gesellschaft/ Persatuan Indonesia Jerman) provinsi Lower Saxony di Utara Jerman membuka acara Kaffeetafel (minum kopi bersama) tahun 2008. Acara Kaffeetafel yang diadakan setiap akhir tahun di Altstadtrathaus (kantor wali kota lama) merupakan undangan istimewa dari wali kota Braunschweig untuk DIG. "Dornse" adalah ruangan pertemuan terbesar di gedung ini yang tidak bisa dipakai oleh siapa saja tanpa ada izin dari wali kotanya.
DIG Niedersachsen adalah satu-satunya organisasi yang mendapat kehormatan untuk memasuki dan menggunakan ruangan "Dornse" bersama masyarakat Indonesia yang bermukim di Braunschweig dan sekitarnya.
2310
ADMI LANDRI SCHULUETER
Foto bersama dengan walikota, Konjen dan
presiden DIG Niedersachsen
Kaffeetafel yang diadakan setiap tahun ini selalu diisi dengan acara budaya secara bergantian, tahun ini gilirannya Indonesia untuk mengorganisir program.  Tahun lalu, acaranya diisi dengan menampilkan wayang golek Jerman (Puppen Theater) yang penyajiannya  persis seperti wayang golek.
Acara yang dimulai dengan penampilan Jaipong Jawa Barat telah memukau penonton, karena bagi masyarakat Jerman di Braunschweig baru pertama kali melihat tarian ini. Setelah itu acara dilanjutkan dengan nyanyi "Pelangi" dan "Balonku" oleh Nara, Shahia (3 tahun), Nalea (4 tahun) dan Melani (5 tahun) yang membuat penonton gemes dan salut akan keberanian mereka dihadapan 150 orang penonton.
Vocal group mahasiswa Indonesia di Braunschweig yang membawakan lagu-lagu nusantara serta lagu nasional membuat
2307
ADMI LANDRI SCHULUETER
Dari kiri ke kanan: Ibu Teuku Darmawan, Bapak Teuku Darmawan, Bapak Sehrt, wali kota Harlfinger, Ibu Sehrt
suasana semakin hidup, apalagi ketika dinyanyikannya lagu "Halo-halo Bandung" yang bisa diikuti oleh beberapa orang Jerman. "Lagu tersebut tepat sekali dikumandangkan disini, karena Braunschweig adalah kota kembar Bandung," demikian Herr Sehrt.
2306
ADMI LANDRI SCHULUETER
Nara, Shahia, Nalea dan Melani membawakan
lagu Balonku & Pelangi

Jalinan kerja sama yang telah terbentuk selama 48 tahun ini semakin terasa keeratannya, apalagi dengan adanya kerja sama ITB dengan TU (Technik Universitt) Braunschweig. Juga kunjungan antara delegasi kedua sahabat ini telah membuat hubungan kedua kota kembar tertua di Jerman ini semakin kental. Dengan adanya alasan seperti ini sangatlah tepat kedudukan DIG Niedersachsen di Braunschweig, demikian sambutan Wali kota Frau Halfinger yang mewakili Oberbrgermeister (Wali kota utama) Dr. Gerd Hoffmann yang pada pada hari itu berhalangan hadir karena sakit.
Bapak Teuku Darmawan, konsul Jenderal RI wilayah Jerman Utara sangat menghargai sekali hubungan kerja sama yang baik antara DIG Niedersachsen dengan konsulat Hamburg dan masyarakat Indonesia di sini, ini terlihat dari bantuan KJRI kepada DIG dalam pengisian acara yang bertitik berat kesenian dan budaya Jawa. Ruangan Dornse pun dihiasi dengan dekorasi Jawa dari KJRI Hamburg yang membuat  setiap tamu yang masuk tertegun mengamati suasana pentas yang bernuansa Jawa.
Penampilan drama tari Ramayana dari sanggar KJRI Hamburg Margi Budoyo telah membuat masyarakat Jerman dan Indonesia yang berdomisili di Braunschweig kagum dan puas atas sajian tersebut, bahkan 80 persen para undangan yang hadir pada hari Sabtu lalu di Altstadtrathaus tersebut telah menyarankan dan meminta Ramayana untuk ditampilkan kembali di Braunschweig tahun depan.

12. November 2008

Vortrag Sabine Kuegler "Dschungelkind" / Anak Rimba di Braunschweig

Im vollbesetzten Foyer des Braunschweigischen Landesmuseums berichtete Sabine Kuegler am 7. November 08 über ihre Kindheit und Jugend im Dschungel von West Papua. In ihrem faszinierenden Vortrag schilderte sie auch die Probleme, die sich nach ihrer Rückkehr in Europa ergaben.

IMG_0669 IMG_0670
IMG_0676 IMG_0681


Zur Einstimmung auf die zu Indonesien gehörende Provinz West Papua spielte Herr Lorenz auf zwei verschiedenen Didgeridoo-Instrumenten, und indonesische Studierende der TU Braunschweig sangen Lieder der Papua.
(Weitere Informationen zu Sabine Kuegler und ihren Publikationen finden Sie unter dem Stichwort "Dschungelkind" oder bei Wikipedia)



Frau Admi Landri Schlueter
berichtete in der Tageszeitung "Tribun Jabar" (Bandung, Indonesien) über diesen Vortrag.

tribun jabar logo

Rabu , 12 November 2008

Anak Rimba di Braunschweig
Admi Landri Schlueter

DEUTSCH Indonesische Gesellschaft (DIG) atau Persatuan Indonesia Jerman Niedersachsen, negara bagian Lower Saxony di Jerman Utara yang berpusat di Braunschweig kembali menghadirkan program akbarnya dengan mengundang Sabine Kuegler.

Dia seorang penulis yang melambung namanya lewat karyanya, Jungle Child. Buku ini mengisahkan kehidupannya semasa kecil hingga remaja di pedalaman hutan rimba raya Papua.

Acara gratis oleh DIG di museum negara (Landesmuseum) Braun,schweig itu menyedot perhatian sekitar 450 orang pada Jumat (7/11) malam. Tempat duduk yang tersedia cuma 400, sisanya terpaksa berdiri dan duduk di tangga panggung.

"Ini jumlah penonton terbesar pada presentasi saya selama ini," kata Sabine Kuegler di akhir acaranya.
Sebelum presentasi, Bapak Lorenz memberi hiburan pengantar berupa tiupan didjeridu, yakni alat musik asli suku Aborigin.

Bagi masyarakat Braunschweig, pertunjukan musik yang cara memainkannya dengan menarik napas ini suatu hal yang baru. Ini mungkin karena daerah Papua, belum begitu banyak dikenal. Selain itu juga dinyanyikan lagu Yamko Rambe dan Apuse.

Lagu Papua ini dibawakan oleh vocal grup mahasiswa Indonesia dari Bandung yang lagi kuliah di Braunschweig, yang mendapat sambutan meriah dari penonton. Dengan penyajian musik dan lagu ini, Papua telah dikenal selangkah sebelum presentasi dimulai.

Buku Jungle Child dan Panggilan Hutan telah terjual habis sebanyak hampir 300 eksemplar pada malam itu yang di pajang oleh Buchhandlung (toko buku) Talia Braunschweig.

Sabine Kuegler lahir di Nepal pada tahun 1972. Ketika berusia tujuh tahun dia diboyong orang tuanya ke sebuah hutan terpencil di Papua Barat pada tahun 1980. Ayahnya Klaus Kuegler adalah seorang pilot dan peneliti bahasa.

Ibunya Doris Kuegler adalah misioner dan guru di Irian Jaya. Bersama kakaknya Judith dan adiknya Christian, Sabine dibesarkan dilingkungan suku Fayu yang baru saja ditemukan saat itu. Suku tersebut sama sekali belum tersentuh oleh peradaban modern.

Sabine kecil pun tidak bermain lagi dengan boneka seperti gadis kecil seusianya, melainkan dengan ular serta busur dan panah benaran. Bukan permen dan keripik yang dikunyahnya melainkan kelelawar, buaya bakar, dan serangga serta kumbang.

Jungle Child adalah kisah memukau tentang suatu kehidupan primitif di hutan pedalaman. Sabine yang terjebak hidup di antara dua budaya, dengan presentasinya menjelaskan bagaimana hidup di pedalaman dan melalui proses yang sulit dan menyakitkan, perlahan-lahan ia berhasil menyesuaikan diri kembali dengan budaya barat.

Namun ia mengakui bahwa sebahagian dari dirinya akan terus menjadi anak rimba, dan suatu hari akan kembali lagi ke sana.

Selain menulis buku anak rimba yang menjadi best seller di berbagai negara, Sabine juga telah menulis beberapa buku lainnya yang menyangkut kehidupan dan situasi di Indonesia. Sekarang dia sedang sibuk menulis buku cerita buat anak dan menyiapkan film Jungle Child yang akan beredar akhir tahun mendatang.

Di samping itu Sabine juga telah dan akan membuka beberapa proyek kemanusiaan di Indonesia yang sudah dianggap sebagai tanah airnya yang kedua. Demikian pengakuannya Sabine di Bandara Hannover, sebelum pulang ke rumahnya di kembali ke Munich.

6. Oktober 2008

Weitere Fotos: Fahrt nach Hamburg, 4. Okt. 2008

Dank an Frau Asih Feuerhahn und Herrn Dr. Dietrich Herrmann für diese Fotos



5. Oktober 2008

Fahrt nach Hamburg, 4. Okt. 2008

Am 4. Oktober 2008 fuhren wieder ca. 40 Mitglieder der DIG nach Hamburg. Bei überwiegend sonnigem Wetter und unter gelungener Führung von Herrn Dr. Herrmann unternahmen wir diesmal eine gemeinsame Barkassen-Rundfahrt durch den Hamburger Hafen. Danach stand genügend Zeit für freie Aktivitäten zur Verfügung. Das am Hafen stattfindende Bürgerfest zum Tag der Deutschen Einheit sowie das neue "Internationale Maritime Museum Hamburg" boten so viel, dass jeder auf seine Kosten kam.